Kuawali ini dengan Tersesat

2016-05-02 00:00:00 // by Administrator

MINGGU, 1 MEI 2016

KP. CEMPAKA SALAM

PANDEGLANG, BANTEN


   Minggu pagi seperti biasa, kakak relawan ISBANBAN Chapter Pandeglang mengajar di taman baca. Namun kali ini ada yang berbeda dari cerita yang sebelumnya. Mungkin bagi kalian yang teliti membaca judulnya, pasti akan menemukan bedanya.

   Yap, kali ini ISBANBAN Chapter Pandeglang kedatangan kakak relawan baru untuk mengajar anak-anak di taman baca. Syukur Alhamdulillah, Pandeglang kedatangan orang-orang luar biasa untuk mengajar bersama.

   Kembali ke persoalan judul cerita kali ini. Ada yang berbeda ternyata. Saya selipkan judul pada tanda di dalam kurung, KU AWALI INI DENGAN TERSESAT. Pasti kalian bertanya-tanya, siapa yang tersesat? Berikut ceritanya. Yuk kita simak cerita berikut !

 

   Ku Awali dengan Tersesat

   Di jalan yang begitu ramai, aku mencoba terawangi satu demi satu pengkolan di daerah Kaduhejo, Pandeglang. Bingung. Karena ini kali pertama aku datang kemari. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang bapak yang tua renta dengan pluit di tangannya. Ia mencoba membantu memarkir kendaraan yang parkir di sebidang tanah untuk menghasilkan pundi-pundi receh.

“Pak, kalau ke desa Cempaka daerah Kaduhejo kearah mana, pak?”

Bapak itu menjawab,

“Hmmmm.. terus lurus saja, de. Nanti ada Alf*midi, adek belok kanan.”

Ucapnya dengan napas yang tersengal-sengal. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih, aku melanjutkan perjalanan menuruti petunjuk si Bapak tadi. Entah mungkin saking semangatnya, akhirnya aku baru sadar bahwa aku sebenarnya “nyasar”. Alf*midi yang bapak tadi sebutkan ialah Alf*midi yang ada di pertigaan jalan. Sambil terus berharap dalam hati agar ada yang menolong, tidak lama kemudian salah satu relawan Chapter Pandeglang yang menelepon untuk memberi petunjuk arah padaku menuju taman baca. Alhamdulillah, perlahan namun pasti aku sampai di tempat yang relawan tadi tunjuk via telepon. Alf*midi, dan ada pertigaan, kemudian belok kanan.

Aku menyusuri jalan yang menanjak, sedikit terjal, namun aku tak patah arang. Sepeda motor yang aku kendarai mulai lelah sepertinya, namun aku terus melaju menuju taman baca. Akhirnya aku sampai pada sebuah bangunan, bangunan dimana banyak harapan akan masa depan Indonesia. Dengan ceria dan agak malu-malu, anak-anak di sana melihat kakak pengajar mereka datang.

Setelah itu, aku mencoba bermain dengan seorang anak bernama Edel. Ia sangat lucu. Mungkin karena asing melihatku yang baru pertama mengajar di chapter ini, ia akan langsung berlari apabila aku menghampirinya. Dengan perlahan aku mengajaknya bermain. Aku tidak sendirian mengajar disini, aku ditemani oleh Irfan, Sandi, Hendi, dan Zahenty. Mereka juga sama-sama volunteer di ISBANBAN Chapter Pandeglang. Dengan ikhlas kami mengajar di taman baca ini. 

Hari pertama mengajar, kami menjelaskan materi tentang Puisi. Saat aku bertanya “Apa itu Puisi?” mereka hanya tersenyum tersipu malu yang sebenarnya mereka tahu apa jawabannya. Akhirnya aku menjelaskan apa itu puisi dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar mereka bisa memahami maksudnya.

Akan tetapi ada yang masih belum paham. Akhirnya dengan cara terakhir, yaitu memutarkan video puisi, agar mereka lebih paham. Setelah itu mereka di minta untuk membuat puisi dan membacakannya di depan kelas. Ketika satu-persatu dari mereka membacakan puisinya, lagi-lagi mereka masih malu dan grogi. Walaupun demikian, kami memberikan applause atas keberanian dan apresiasi mereka.

Setelah selesai memberi pengajaran tentang puisi, aku bertanya pada mereka.

“Kapan Isra Mi’raj?”

Mereka menjawab dengan suara agak keras,

“Tanggal 22, Kak”

Kami akhirnya mencoba untuk bertanya sejauh mana kesiapan mereka untuk menyambut hari besar Islam ini, karena biasanya memang dirayakan. Jam menunjukkan pukul 11:30 WIB, kami bersiap untuk pulang dan salah satu dari mereka ada yang memimpin do’a sebelum pulang. 

Lelah yang kami dapat menjadi tenaga kembali saat mereka berkumpul untuk berpamitan pulang.

“Hati-hati, Adek, jangan lupa minggu depan datang lagi.”

Dengan wajah polos mereka menjawab

“Iya, Kak.

 

Cerita diatas adalah pengalaman pertama dari salah satu relawan isbanban chapter Pandeglang yaitu Rohani, yang berasal dari Kota Serang. Pengalamannya ini menjadi salah satu kisah inspiratif untuk kita semua bahwa setiap risiko dalam tindakan kita pastilah ada. Menjadi seorang relawan yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di tempat baru pastilah ada sedikit kesalahan yang dilakukan. Entah itu ‘nyasar’ di jalan seperti cerita Rohani diatas.

Selamat datang untuk kakak relawan baru Istana Belajar Anak Banten, dan semoga kalian tetap semangat dalam melaksanakan tugas pengabdian. Untuk Banten, dan khususnya untuk Indonesia yang lebih baik.


Penulis : Fina Septiani - Kakak Pengajar Isbanban Pandeglang, Jurnalis Dept. IT dan Media

Editor : Ghina Nabila - Jurnalis Dept. IT dan Media