Malam Minggu Kite keh!

2016-05-23 00:00:00 // by Administrator

SABTU, 21 Mei 2016

Desa Cipala

Cilegon, Banten


Ini bukan cerita pengajaran rutin setiap hari Minggu, melainkan Sabtu sore menjelang malam Minggu ini kakak-kakak dari Isbanban Cilegon datang ke desa nan jauh diatas gunung yang menjulang tinggi menembus awan... (ehh lebay amat kak) untuk melatih 'adik-adik super' menari dan berpuisi. Yap, salah satu guru di desa meminta kami melatih mereka menjelang acara pelepasan kelas VI. Pukul 15.00 WIB tepatnya kami berangkat menuju desa. Para pahlawan dan pahlawati dari negeri api yang hadir hari ini adalah kak Ulil, kak Anabil, kak Hafidz, kak Rifki, kak Dita, kak Ghina, kak Julia, kak Mala, dan kak Marina. Kami sampai di desa sekitar pukul 16.00 WIB.

Tidak ditemukan kesulitan yang berarti dalam melatih adik-adik karna ini bukanlah penampilan pertama mereka. Dahulu kala, sebelum negara api merdeka, tepatnya beberapa bulan lalu adik-adik desa Cipala tampil dalam acara Kumpul Bocah tingkant Provinsi Banten se-Isbanban dan pernah juga diundang tampil dalam acara Grandlauch Nutrifood di Mayofield Kota Cilegon. Maka dari itu untuk kembali melatih mereka tidak sesulit dulu saat pertama kali melatih mereka dari nol. Memang wajar mereka sedikit lupa akan gerakan tari dan beberapa bait kata dalam puisi, dan disinilah tugas kami untuk exercise mereka supaya lancar kembali. Pisau akan tumpul jika terus-terusan dipakai tanpa diasah.

Namun pemirsa, yang terjadi saat latihan nari berlangsung adalah hal-hal yang membuat kak Dita (pelatih) naik darah lantaran adik-adik malah keasyikan bercanda dengan kak Rifki yang menjadi pengganti salah satu penari yang tidak hadir. Kak Rifki datang terlambat ke desa dan begitu memasuki gerbang kerajaan SDN Cipala, seperti biasa disambut dengan sorakan dan tawaan dari adik-adik perempuan yang suka bercanda dengannya setiap hari Minggu. Setelah istirahat beberapa menit, kak Rifki dipanggil untuk ikut menari menggantikan Putri (adik yang tidak hadir). Adik-adik sempat terbahak-bahak mendengar kak Dita menyuruh kak Rifki menari. Ketika sang penari tampan mulai menggerakkan tubuhnya dengan kaku ditengah adik-adik, semua sempat geger namun kembali serius latihan karna waktu sudah terlalu sore menjelang Maghrib. Resiko bertambah besar jika kami para relawan pulang menuruni desa Cipala yang letaknya cukup tinggi dari jalan utama saat malam hari. Sebetulnya keadaan jalan menuju desa sudah lumayan membaik jika dibandingkan dengan tahun lalu saat Isbanban Cilegon awal berdiri. Dulu tidak ada lampu dan aspal tidak rata. Beberapa dari kakak relawan Isbanban khususnya perempuan banyak yang pernah menjadi korban terpeleset dari motor saat hendak turun dari desa. Namun semenjak berobat ke klinik tung fong, perjalanan kami menuju desa menjadi aman dan nyaman. Beberapa waktu lalu ada perbaikan jalan di tengah tanjakan menuju desa dan sekarang pun sudah dipasang beberapa lampu jalan. Namun bagaimanapun juga, berkendara saat malam hari melewati jalan yang menanjak tajam dan sempit bukanlah keputusan yang bijak. Lebih baik diam dirumah dan menikmati cerita-cerita inspiratif dari kisah pengalaman para relawan Isbanban.

Dan beginilah sekiranya malam minggu yang dialami oleh para relawan dari Isbanban Cilegon. Terimakasih saya ucapkan dari puncak kerinduan yang menusuk kalbu *eaaaa. Selamat berjumpa lagi dalam curahan tinta digital. Byeeeee...


Penulis : Ghina Nabila - Kakak Pengajar Isbanban Cilegon, Jurnalis Dept. IT dan Media